Wartanusantaranew.id - Di balik jeruji besi Polres Probolinggo, Holili (23) hanya tertunduk. Tidak ada gurat penyesalan yang meluap, yang ada hanyalah gurat kelelahan dari seorang anak yang merasa tugasnya menjaga kehormatan keluarga telah usai meski dengan cara yang paling kelam.
Kasus pembunuhan yang dilakukan Holili terhadap pria yang diduga memp3rk0s^ ibunya bukan sekadar berita krim1nal biasa. Ini adalah potret keputusasaan seorang *n4k muda yang merasa hukum dunia tak cukup cepat menyembuhkan luka ibunya.
Menelan Luka Sendirian Selama berhari-hari, Holili menyimpan api dalam dadanya setelah mengetahui peristiwa pilu yang menimpa sang ibu. Namun, alih-alih berlari kepada sang ayah untuk mengadu, ia justru memilih menutup rapat mulutnya. Ia merencanakan segalanya sendiri, hingga ny4w* sang pelaku melayang di tangannya.
Ketika penyidik melontarkan pertanyaan kunci: "Kenapa tidak melapor ke ayahmu", jawaban Holili seketika membungkam ruangan.
"Kalau saya bilang ke Ayah, Ayah pasti akan membvn*h orang itu. Saya tidak ingin Ayah yang masuk penjara. Biar saya saja, biar Ayah tetap di rumah menjaga Ibu," ucapnya pelan.

